Penguatan Kelompok Tani Melalui Infrastruktur Pendukung Produksi Berbasis Koperasi Desa Di Kabupaten Maros
DOI:
https://doi.org/10.55334/s3656x15Keywords:
farmer group, village cooperative, production infrastructure, appropriate technology, Cavendish bananaAbstract
Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros memiliki potensi pertanian yang besar, terutama pada komoditas pisang Cavendish yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat karena nilai ekonomi dan permintaan pasarnya yang tinggi. Namun demikian, kegiatan penyiraman, pemupukan, dan penyemprotan masih dilakukan secara manual, pengolahan pisang menjadi keripik masih menggunakan peralatan sederhana, serta pemasaran produk masih terbatas pada jalur konvensional. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan kapasitas kelompok tani dalam pemanfaatan teknologi tepat guna, memperkuat pemahaman mengenai pentingnya infrastruktur pendukung produksi, meningkatkan kemampuan pengurus koperasi dalam aspek hukum dan manajemen, mendorong digitalisasi administrasi koperasi, serta memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat. Metode pelaksanaan meliputi empat tahapan, yaitu sosialisasi dan koordinasi, pendampingan teknologi tepat guna dan penataan infrastruktur produksi, literasi hukum dan manajemen koperasi, serta evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai pemanfaatan teknologi pada proses penyiraman, pemupukan, penyemprotan, dan pengolahan hasil panen, serta pentingnya penataan rumah produksi, gudang penyimpanan, dan ruang pengemasan. Pada aspek kelembagaan, pengurus koperasi memperoleh pemahaman mengenai legalitas koperasi, penyelenggaraan Rapat Anggota Tahunan (RAT), penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta pemanfaatan media digital untuk pemasaran produk. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kapasitas kelompok tani dan koperasi desa sebagai lembaga ekonomi masyarakat, dan diharapkan dapat ditindaklanjuti secara berkelanjutan agar produk unggulan desa memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar regional maupun nasional.
References
Indraningsih, K. S., & Swastika, D. K. (2021). Akselerasi pembangunan pertanian wilayah tertinggal melalui penguatan kapasitas petani dan kelompok tani. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 39(2), 147–164. https://doi.org/10.21082/fae.v39n2.2021.147-164
Nugrahapsari, R. A., & Hutagaol, M. P. (2021). Tinjauan kritis terhadap kebijakan harga gabah dan beras di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 39(1), 11–26. https://doi.org/10.21082/fae.v39n1.2021.11-26
Nurjati, E. (2021). Peran dan tantangan e-commerce sebagai media akselerasi manajemen rantai nilai produk pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 39(2), 115–133. https://doi.org/10.21082/fae.v39n2.2021.115-133
Pratiwi, N. A., Harianto, H., & Daryanto, A. (2017). Peran agroindustri hulu dan hilir dalam perekonomian dan distribusi pendapatan di Indonesia. Jurnal Manajemen dan Agribisnis, 14(2), 127–137. https://doi.org/10.17358/jma.14.2.127
Badan Standardisasi Nasional. (2016). Sistem manajemen mutu untuk usaha mikro, kecil, dan menengah. BSN.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia. (2021). Pedoman pemberdayaan masyarakat desa. Kemendes PDTT.
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2022). Pedoman pengelolaan koperasi modern. KemenKop UKM.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2021). Pedoman penanganan pascapanen hortikultura. Direktorat Jenderal Hortikultura.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2022). Pedoman budidaya pisang Cavendish yang baik (Good Agricultural Practices). Direktorat Jenderal Hortikultura.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Benny Pasambuna, Reinaldo Item

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







